Ahlul Hadis

Sebaik-baik Petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad saw

Iman dan Istiqamah

Posted by Abah Zacky as-Samarani pada Januari 2, 2008

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdillah ra, aku berkata: wahai Rasulullah saw ajarkanlah kepadaku dalam (agama) Islam ini suatu ucapan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada orang lain selain engkau, (maka) Rasulullah saw bersabda: “Ucapkanlah: ‘aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqomahlah” (HR. Muslim)


Sahabat yang bertanya kepada rasulllah ini adalah Sufyan bin ‘Abdillah Ats Tsaqafi ra. Kunyah beliau adalah Abu ‘Amr, tetapi ada juga yang mengatakan: Abu ‘Amrah. Beliau pernah menjabat sebagai gubernur wilayah Ath Thaif pada jaman kekhalifahan ‘Umar bin Al Khaththab ra. Shahabat ini ingin agar Rasulullah saw menjelaskan persoalan syariat secara gemblang tetapi dalam ungkapan yang singkat saja.

Pertanyaan Sufyan ini menyiratkan besarnya semangat para Sahabat ra dalam menanyakan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka. Tujuan mereka menanyakan hal-hal tersebut adalah benar-benar untuk mengilmui (mengetahui) dan mengamalkannya, bukan hanya semata-mata untuk pengetahuan. Karena ilmu yang tidak dibarengi amal adalah seperti pohon yang tidak memiliki buah, Allah berfirman tentang hamba-hambaNya yang bertakwa:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya” (QS Muhammad:17)

Maka Rasul saw pun dalam menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang praktis, sekaligus mendasar. Beliau menjawab dengan dua buah kalimat, tetapi mencakup seluruh prinsip nilai agama Islam, yaitu “Katakanlah, aku telah beriman kepada Allah lalu beristiqamahlah”

Ya, kalau kita mempelajari pesan-pesan yang dibawa oleh ajaran Islam, baik di dalam al-Qur’an maupun di dalam sunnah RasulNya saw, untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh shahabat tersebut, pasti tidak akan menemukan kalimat yang lebih mendasar daripada pesan rasulullah ini. Agama islam mengajarkan ilmu dan amal. Dasar untuk itu adalah mengenal Allah, tunduk dan patuh kepadaNya, dan buahnya adalah sikap taat kepadaNya. Pengetahuan tentang Allah yang sempurna akan mendorong seorang hamba untuk patuh dan tidak akan melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah.

Prinsip seperti ini pulalah yang telah dikemukkan oleh Allah di dalam al-Qur’an,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah mengatakan Rabb kami adalah Allah, lalu mereka istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka, dengan mengatakan, “Janganlah kalian takut dan bersedih hati, bergembiralah dengan sorga yang telah dijanjikan untuk kalian (Fushilat:30)

Ayat ini pun menyebutkan dua unsur utama agar seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dan menyingkirkan segala duka, pertama adalah iman kepada Allah, dan kedua adalah istiqamah.

Iman

Kebanyakan orang mengalami kekeliruan dalam menjelaskan hakekat iman. Sebagai ilustrasi, kadang-kadang kita mendengar orang mengatakan, “Iman itu yang penting di dalam hati.” Atau orang mengatakan, “Yang penting hatinya masih percaya”

Kajian tentang hakekat iman adalah sangat penting, sebab iman menjadi satu istilah yang syar’i dan agung di dalam syariat. Secara bahasa iman berarti pembenaran (tashdiq) yang pasti dan tidak terkandung keraguan di dalamnya. Pembenaran yang dimaksud dari iman ini meliputi dua perkara, yaitu membenarkan segala berita, perintah, dan larangan, serta melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan- larangan-Nya.

Adapun secara istilah, Ahlus Sunnah wal Jamaah mendefinisikan iman dengan ungkapan, “Keyakinan di dalam hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”. Definisi ini penting untuk digaris bawahi agar kita bisa membedakan antara pemahaman yang benar dengan pemahaman yang menyimpang. Salah satu penekanan di dalam definisi ini, bahwa amal adalah bagian dari iman. Maka bila seseorang melakukan berbagai amal ketaatan, imannya akan meningkat. Sebaliknya bila melakukan kemaksiatan maka imannya akan turun.

Banyak ayat al-Qur’an maupun hadis yang menunjukkan bahwa iman bisa meningkat dan bisa berkurang. Di antaranya adalah

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, niscaya iman mereka bertambah” (Al-Anfal:2)

Secara jelas Allah menyebutkan adanya pertambahan iman pada diri seorang mukmin manakala dibacakan ayat-ayatNya. Ini menunjukkan bahwa iman bukan entitas statis, tetapi dinamis. Bisa bertambah, bisa berkurang, dan bisa hilang sama sekali.

Sedangkan di antara hadis yang menunjukkan iman bisa meningkat dan berkurang adalah;

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman terdiri dari tujuh puluh sekian cabang, yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, dan terendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman. (Muslim, Abu dawud dan lain-lainnya)

Hadis ini berbicara tentang tingkatan-tingkatan iman. Jika semakin banyak cabang dilakukan, maka kualtas imannya tentu akan meningkat. Dan semakin sedikit cabang iman diamalkan, maka keimanannya akan semakin gersang. Dan jika tidak ada amal sama sekali, maka tidak ada iman.

Keimanan kepada Allah merupakan tingkat iman tertinggi. Keimanan ini mencakup percaya pada wujudNya, keyakinan pada keesaanNya dalam rububiyyahNya, uluhiyyahNya dan asma’ wa sifatNya. Sekali lagi, iman bukan sekedar percaya, tetapi harus ada aksi nyata. Maka keimanan kepada Allah secara mutlak mengharuskan kepercayaan kepada semua ajaran yang diturunkan Allah. Dan juga mengharuskan adanya ketaatan terhadap perintah dan larangannya.

Dari sini pula bisa difahami bahwa kalimat iman kepada Allah di dalam hadis di atas bukan berarti beriman cukup iman kepada Allah tanpa yang lain. Meskipun disebut hanya iman kepada Allah sesungguhnya mencakup keimanan kepada semua hal yang harus diyakini. Di dalam Al-Qur’an maupun hadis sering kali disebut beberapa acam rukun saja, seperti iman kepada Allah dan RasulNya, Iman kepada Allah dan hari kahir. Tetapi itu tetap menuntut keimanan kepada cabang-cabang yang lain, baik yang ushul maupun yang furu’. Adapun ushul iman sebagaimana disebutkan di dalam hadis Jibril, Rasulullah menyebutkan ada enam pokok, yaitu iman kepada Allah, malaikatNya, kitabNya, para rasulNya, hari akhir, dan tadirNya.

Untuk sampai kepada derajat keimanan ini, seseorang harus yakin secara mutlak, sehingga menyingkirkan segala bentuk keraguan. Keyakinan seperti ini akan sanggup menumbuhkan semangat jihad, semangat pengorbanan. Mengorbankan apa saja yang ada pada dirinya untuk tegaknya keimanannya. Firman Allah;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya, kemudian tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (al-Hujurat;15)

Demikian juga iman yang benar harus disertai dengan loyalitas kepada Allah, dan sebaliknya ingkar kepada tuhan-tuhan selain Allah. Keimanan kepada Allah yang tidak diikurti dengan pengingkaran terhadap tuhan-tuhan selain Allah adalah sia-sia belaka.

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“Maka, barang siapa kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali ikatan yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah :256)

Iman dan Ujian

Pengakuan iman seseorang tidak secara otomatis membuat Allah puas kepadanya. Allah telah menetapkan sebuah ketentuan bahwa setiap pengakuan iman akan melalui tahap ujian. Firman Allah

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira mbahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan “Kami telah beriman” lalu mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang benar (dengan pengakuan imannya) dan benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta (al-Ankabut:2-3)

Dalam kehidupan manusia ujian keimanan selalu datang silih berganti. Kadang-kadang ujian itu dating melalui syetan, menggoda orang beriman agar ingkar kepada llah. Kadang-kadang Allah menurunkan ujian melalui bala’, apakah ketika ditimpa ujian ini mereka bisa selalu teguh dengan keimanannya? Kadang-kadang pula ujian itu berupa hal-hal yang menyenangkannya, apakah ia lupa atau tidak?

Istiqamah

Kata istiqamah berakar dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Sedangkan secara terminologi, para ulama berpendapat bahwa makna istiqomah adalah berikut ini;

Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang Istiqâmah ia menjawab bahwa Istiqâmah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun).

Umar bin Khattab ra berkata, “Istiqâmah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu”.

Utsman bin Affan ra berkata, “Istiqâmah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah Taala”.

Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Istiqâmah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”.

Mujahid berkata, “Istiqâmah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.

Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka berIstiqâmah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.

Dari berbagai definisi di atas, seorang mukmin yang istiqamah adalah mukmin yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Ia selalu menjaga ketaatan kepada Allah lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan, dan syukur dengan segala nikmat. Itulah manusia mukmin yang sesungguhnya.

Pendek kata, istiqamah itu maknanya adalah teguh mengikuti manhaj (system) Islam (shiratal mustaqim). Allah berfirman;

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

Dan bahwasanya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain, yang menyebabkan kalian menyipang dari jalanNya (Al-An’am:153)

Dengan memperhatikan ayat tersebut tampaklah bahwa hakekat istiqamah adalah teguh dan mantap di atas jalan Islam. Dan tidak istiqamah maka berarti menyeleweng dan menyimpang dari ajaran Islam.

Istiqamah bisa dilakukan dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, sikap. Istiqamah dalam aqidah, maka ia senantiasa menjaga keyakinannya tentang keesaan Allah. Kemudian ia mengikuti aqidah yang shahihah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw, dan diteladankan para shahabat ra. Istiqamah dalam akhlak, ia senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah tidak berlebih-lebihan dan tidak kurang. Tidak terburu-buru dan tidak malas. Istiqamah di dalam amal yaitu beramal sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, tidak membuat bid’ah dan juga tidak meninggalkannya. Orang yang membebani diri dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan, seperti mengharamkan sesuatu yang mubah untuk mendekatkan diri kepada Allah, hakekatnya ia bukanlah orang yang istiqamah dalam amalnya.

Akan tetapi, bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin dapat terus-menerus sempurna dalam beristiqamah. Karena bagaimana pun manusia tidak akan luput dari kesalahan dan kelalaian yang menyebabkan berkurangnya nilai keistiqamahannya. Oleh karena itu Allah memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa untuk mengatasi keadaan ini dan memperbaiki kekurangan tersebut, yaitu dengan beristigfar (meminta ampun kepada Allah) dari semua dosa dan kesalahan, Allah berfirman:

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Maka beristiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada Allah) dan mohonlah ampun kepada-Nya” (QS. Fushshilat: 6),

Istigfar di sini mengandung pengertian bertaubat dan kembali kepada keistiqamahan. Dan ayat ini semakna dengan sabda Rasulullah saw: kepada Abu Dzar al-Ghifari ra :

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Agar Bisa Istiqamah

Meskipun Allah memberikan jalan kembali pada kita ketika keistiqamahan kita merosot, tentu kita tidak menginginkan terjadi kemerosotan ini. Apalagi tidak adanya jaminan kemerosotan istiqamah akan berakhir dengan istighfar. Sebab bisa jadi keistiqamahan itu merosot, merosot dan merosot hingga akhirnya iman habis sama sekali. Karena itu penting sekali kita mengetahui hal-hal yang bisa menjaga keimanan kita, sehingga kita tetap dalam keistiqamahan.

Untuk menutup kajian ini, berikut ini kami kutipkan beberapa hal yang bisa menjadikan keimanan kita mantap dan Istiqamah.

1. Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar, Allah swt berfirman:

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Ibrahim: 27)

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat ini adalah dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar, sebagaimana yang ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ { يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ }

Dari Baro’ bin ‘Azib ra dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Apabila seorang muslim didudukan di dalam kuburnya lalu dia ditanya (oleh malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa ‘tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah’ (لا إله إلا الله) dan ‘Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah’ (محمد رسول الله), itulah makna Firman-Nya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”. (HR al-Bukhari)

2. Membaca Al Quran dengan menghayati dan merenungkannya. Al Quran adalah sumber peneguh iman yang paling utama bagi orang-orang yang beriman, ebagaimana firman Alloh:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Robb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. An Nahl: 102)

3. Berkumpul dan bergaul bersama orang-orang yang bisa membantu meneguhkan iman. Allah menyatakan dalam Al Quran bahwa salah satu di antara sebab utama yang membantu menguatkan iman para sahabat Rasulullah saw adalah keberadaan Rasulullah saw di tengah-tengah mereka. Allah berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Ali ‘Imran: 101)

4. Berdoa kepada Alloh. Di dalam Al-Quran Allah swt memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdoa kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Firman Allah:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali ‘Imran: 146-148)

5. Membaca kisah-kisah para Nabi dan Rasul saw serta orang-orang shalih yang terdahulu untuk mengambil suri teladan. Dalam Al Quran banyak diceritakan kisah-kisah para Nabi, rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu, yang Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah saw dengan mengambil teladan dari kisah-kisah tersebut ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir. Allah berfirman:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud:120)

Allahu a’lam bish-shawab

Satu Tanggapan to “Iman dan Istiqamah”

  1. syafii singosari malang berkata

    terima kasih banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: