Ahlul Hadis

Sebaik-baik Petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad saw

Tauhid Sebagai Sebab Masuk Sorga

Posted by Abah Zacky as-Samarani pada April 23, 2008

عَنْ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

Dari Ubadah bin Ash-Shamit, ra , menuturkan : Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya; dan (bersyahadat) bahwa Isa adalah hamba Allah, rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh daripada-Nya; dan (bersyahadat pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan nerakapun benar adanya; maka Allah pasti memasukkannya kedalam Surga betapapun amal yang telah diperbuatnya.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).


Penjelasan Hadis

Barangsiapa bersyahadat مَنْ شَهِدَ

Syahadat berasal dari kata syahida – yasyhadu, artinya hadir dan menyaksikan. Kesaksian ini bisa berupa kesaksian yang berdasarkan pada apa yang difahami oleh hati atau kesaksian yang ber dasarkan pada apa yang dilihat oleh mata.

Yang dimaksudkan dengan syahadat di sini, adalah ikrar masuk Islam, yaitu mengucapkan dua kalimah syahadat. Hanya saja, mengucap dua kalimah syahadat ini harus memenuhi syarat dan rukunnya. Di antara syarat syahadat adalah memahami maknanya, meyakininya, mengucapkan dengan ikhlas dan benar-benar (bukan main-main dan gurauan), serta tunduk kepada konsekuensinya

Mengucapkan dua kalimah syahadat apabila tidak disertai dengan pemahaman terhadap maknanya, atau memahami tetapi tidak meyakininya, atau mengucapnya dengan main-main, atau tidak main-main tetapi karena menginginkan adanya balasan di dunia, atau mengucap tetapi tidak mau mengamalkan konsekuensinya, maka ucapan itu menjadi sia-sia belaka.

Laa ilaaha illallah أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Kalimat Laa ilaaha illallah terdiri dari dua bagian. Masing-masing bagian menjadi rukun kalimah syahadat. Bagian yang pertama adalah nafyi (peniadaan) yaitu pada penggalan kalimat Laa ilaaha, maksudnya, kalimat tersebut meniadakan hak peribadatan kepada selain Allah. Bagian yang kedua adalah itsbat (penetapan) yang ditunjukkan oleh penggalan kalimat illallah, maksudnya kalimat tersebut menetapkan hak peribadatan hanya milik Allah.

Allah telah menjelaskan hakikat kedua rukun ini ketika menceritakan perkataan Ibrohim kepada ayah dan kaumnya,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (Az-Zukhruf: 26-27).

Penggalan ayat yang pertama, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah” merupakan penjelasan penggalan kalimat Laa ilaaha. Sedangkan penggalan ayat yang kedua, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku” adalah penjelasan penggalan kalimat illallah.

Jadi, dengan kata lain, makna laa ilaha illallah adalah, “yang berhak diibadahi hanya Allah saja. Tuhan-tuhan selain Allah pada hakikatnya tidak layak dan tidak berhak untuk disembah dan diibadahi”. Tetapi mengapa jin dan manusia tetap ada yang beribadah kepada selain Allah padahal mereka telah mengucapkan kalimat syahadat? Ini menunjukkan kejahilan mereka tentang makna syahadat Laa ilaaha illallah.

Yang benar, makna kalimat Laa ilaaha illallah adalah “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah”. Berarti, Tuhan yang berhak diibadahi adalah Allah. Tuhan-tuhan selain Allah tidak punya hak untuk disembah/diibadahi, walaupun ada sebagian jin dan manusia yang menyembahnya. Maka peribadatan kepada Allah saja itulah yang benar (haq), sedangkan peribadatan kepada selain Allah itulah yang salah (batil). Makna ini sesuai dengan firman Allah,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka ibadahi selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Hajj: 62)

Dia semata yang tiada sekutu bagiNya وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

Kalimah ini merupakan penekanan dari pernyataan laa ilaaha illallah. Wahdahu merupakan penekanan pada itsbat, bahwa yang berhak disembah itu hanya Allah semata. Dan laa syarika lahu merupakan penekanan rukun pertama, tidak ada sesembahan selain dari Allah.

Konsekuensinya

Seseorang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah seharusnya memahami maknanya dengan landasan ilmu, meyakini kebenarannya serta mengamalkan konsekuensinya dengan anggota tubuhnya. Sehingga ia tidak membatalkan ucapannya sendiri karena ketidaktahuannya tentang hakikat pengucapan Laa ilaaha illallah. Dan di antara konsekuensinya adalah apapun bentuk ibadah (seperti nadzar, sembelihan, tawakal, takut, mengharap dan sebagainya) yang kita lakukan harus ditujukan untuk Allah saja, tidak kepada selain-Nya, entah itu nabi, malaikat, wali, jin, berhala, kuburan, bebatuan, pepohonan maupun yang lain.

Bahwasannya Muhammad adalah hamba dan RasulNya وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Persaksian atas keesaan Allah juga diikuti dengan persaksian atas kehambaan dan kerasulan Nabi Muhammad saw. Tidak sah persaksian tiada sesembahan yang selain Allah tanpa diikuti dengan persaksian yang kedua ini.

Persaksian yang kedua ini mengandung makna, bahwa nabi Muhammad adalah seorang hamba Allah, yang tidak memiliki sifat ketuhanan. Sebagai manusia biasa, beliau memiliki sifat-sifat yang sama dengan manusia lainnya. Meskipun demikian Allah memberikan karunia kepada beliau yang berupa wahyu yang harus disampaikan kepada umat manusia. Hal ini juga dinyatakan oleh Allah di dalam surat al-Kahfi:110

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Katakanlah, sesungguhnya aku adalah manusia biasa sebagaimana kalian, hanya saja telah diwahyukan kepadaku bahwa tuhan kalian adalah tuhan yang esa (al-Kahfi:110)

Ungkapan ini menunjukkan kepada kita agar bersikap secara proporsional, tidak berlebihan dan tidak pula kurang dalam bersikap kepada beliau. Kadang-kadang kita jumpai umat manusia berlebih-lebihan dalam menyikapi Rasulullah, lalu menyanjung rasul setinggi langit, bahkan menyetarakan dengan Allah. Lalu menjadikan rasul sebagai tempat meminta dan berdo’a. Padahal rasulullah sendiri telah bersabda;

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku seperti dilakukan Nashara terhadap Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkanlah oleh kalian: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari)

Tetapi ada pula orang yang terlalu meremehkan rasul saw. Yang paling parah adalah sikap kaum Yahudi dan Nasrani yang menolak kerasulan nabi Muhammad saw. Tetapi ada juga di antara mereka mengaku sebagai muslim, pengikut agama Rasulullah saw. tetapi tidak memenuhi konsekuensi keimanan kepada Rasul. Ketika diajarkan hadis Rasul kepada mereka, maka mereka pun menolaknya dengan berbagai alasan. Kadang-kadang penolakannya itu dalam hal-hal tertentu seperti menolak hadis ahad dalam urusan aqidah, tetapi ada juga yang menolak secara keseluruhan, seperti kaum inkarus sunnah.

وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Dan Isa as adalah hamba Allah dan utusanNya

Dalam mengimani para rasul Allah, kaum muslimin beriman kepada seluruh rasul tanpa membeda-bedakannya. Bersikap kepada para rasul pun sama, menganggap mereka semua sebagai manusia biasa yang mendapatkan wahyu. Firman Allah

لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

“Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya” (al-Baqarah:285)

Lebih lanjut ungkapan ini untuk membantah kesatan kaum Nasrani yang yang meyakini Isa (Yesus) adalah anak Allah. Kaum muslimin meyakini bahwa Allah tidak memiliki anak, dan tidak pula dilahirkan. Selain itu juga tidak membutuhkan sekutu, sebagaimana firman Allah

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya (al-Mukminun:91)

Selain itu ungkapan ini juga membantah kaum Yahudi yang tidak mempercayai kerasulan Nabi Isa as.

وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ
dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam

Para ulama’salaf (dari kalangan shahabat dan tabi’in) menjelaskan makna kata kalimat yang digunakan di sini karena penciptaan nabi Isa as dengan “kun” dari Allah yang berbeda dengan “kun” yang berlaku terhadap manusia pada umumnya. Jika manusia diciptakan melalui perantaraan seorang ayah dan ibu, nabi Isa tidak melalui ayah, meskipun melalui ibu. Kalimat “kun” yang diberikan Allah kepada Maryam itulah yang selanjutnya berproses menjadi manusia, yang kemudian bernama Isa dan diutus menjadi seorang Rasul. Dengan demikian, nabi Isa bukan kalimat “kun” itu sendiri, melainkan penciptaan nabi Isa as dengan kalimat “kun” yang diberikan kepada Maryam.

Pemahaman ini berbeda dengan pemahaman kaum Kristen, yang meyakini bahwa nabi Isa (Yesus) adalah anak Allah. Dan “kalimat Allah” difahami sebagai bagian dari dzat Allah. Atau setidaknya di dalam dirinya menitis dzat ketuhanan. Firman Allah

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya masalah penciptaan Isa di sisi Allah itu seperti penciptaan Adam. Aku ciptakan dia dari tanah, kemudian dikatakan kepadanya kun fa yakuun (Ali Imran:59)

Ayat tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa penciptaan Isa adalah seperti penciptaan Adam, yaitu dibuat dari tanah kemudian Allah mengatakan kun fa yakun.

Disinilah kita mencoba menganalisa firman Allah di atas. Dia telah mengatakan bahwa penciptaan Isa adalah sebagaimana penciptaan Adam. Maka, secara logika, kita boleh mengatakan bahwa penciptaan keduanya adalah memiliki mekanisme yang sama. Mekanisme yang sama itu adalah mekanisme di luar kewajaran penciptaan manusia pada umumnya.

Dan ruh dari (ciptaan)Nya وَرُوحٌ مِنْهُ

Setelah proses penciptaan manusia terjadi di dalam rahim Maryam berjalan, maka Allah pun meniupkan ruh yang berasal dari-Nya. Pemahaman ruh dariNya bukan ruh nabi Isa adalah bagian dari ruh Allah, melainkan ruh nabi Isa asa adalah ruh yang berasal dari Allah.

Ubay bin ka’b di dalam memahami ungkapan in mengatakan, “Isa adalah salah satu ruh di antara ruh-ruh yang telah diciptakan allah, lalu ditanyakan kepadanya , “Bukankah aku Tuhanmu? Maka para ruh itu menjawab, “Benar, ya Allah”. Setalah itu Allah mengutus malaikat untuk memasukkan ruh itu kepada janin di dalam rahim Maryam”

Bersaksi bahwa Surga adalah benar dan nerakapun benar وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ

Keyakinan kepada syahadat diikuti juga keimanan kepada hari akhir. Salah satu fenomena hari akhir yang harus diyakini adanya adalah sorga dan neraka. Sorga disiapkan oleh Allah untuk orang-orang yang beriman dan neraka disediakan oleh Allah untuk orang-orang yang durhaka.

Keimanan kepada sorga dan neraka juga harus ditetapkan sebagaimana cirri-ciri yang disebutkan oleh Allah di dalam al-Qur’an, atau disebutkan oleh rasulullah saw di dalam hadis.

Allah pasti memasukkannya ke dalam Surga أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ

Ungkapan ini adalah ending dari persyaratan yang telah disebutkan dimuka. Apabila persyaratan-persyaratan yang telah disebugkan itu dipenuhi dengan baik, maka Allah akan memasukkan ke dalam sorga.

Di sini bukan dikatakan dijauhkan dari neraka, tetapi dikatakan Allah memasukkan ke dalam sorga. Masuknya manusia ke dalam sorga ada beberapa model. Ada manusia yang masuk sorga tanpa hisab (tanpa diperhitungkan lagi amalnya), sebagaimana sabda Rasulillah saw

قِيلَ لِي انْظُرْ هَا هُنَا وَهَا هُنَا فِي آفَاقِ السَّمَاءِ فَإِذَا سَوَادٌ قَدْ مَلَأَ الْأُفُقَ قِيلَ هَذِهِ أُمَّتُكَ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ هَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Dikatakan kepadaku (oleh jibril), lihatlah kemari di ufuk langit, (Rasulullah melihat) di sana ada kumpulan orang yang memenuhi ufuk, lalu dikatakan (oleh Jibril), “Ini ummatmu, di antara mereka ada 70 ribu orang yang masuk sorga tanpa hisab” (HR al-Bukhari)

Ada pula yang masuk sorga setelah dihisab, dan dimudahkan hisabnya. Dan ada pula yang masuk sorga setelah terlebih dahulu disiksa di dalam neraka.

Bagaimanapun amal yang telah diperbuatnya عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Allah tidak mempedulikan kondisi amal orang yang bertauhid. Bagaimana pun selama seseorang bertauhid, dan tidak cacat tauhidnya, maka ia berhak untuk masuk ke dalam sorga. Meskipun harus melalui masa pencucian di dalam neraka. Hadis ini menegaskan firman Allah

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً بَعِيداً

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (an-Nisa’:116)

Penutup

Pelajaran dari hadis ini, agar kita termasuk orang yang berhak masuk ke dalam sorga, marilah kita meluruskan pemahaman aqidah kita, dan juga menauhkan diri dari syirik sejauh-jauhnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: