Ahlul Hadis

Sebaik-baik Petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad saw

Agar Iman Terasa Manis

Posted by Abah Zacky as-Samarani pada Maret 6, 2009

عن أنس عن النبي قال «ثـلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان؛ أن يكون الله ورسـوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار».
[ رواه الشيخان]

Dari Anas bin Malik, ra, dari Nabi saw, bersabda;

Tiga hal, apabila ketiganya ada pada diri seseorang maka ia akan bisa merasakan manisnya Iman;
1- Menjadikan Allah dan RasulNya lebih dia cintai daripada selain keduanya

2- Mencintai seseorang hanya karena Allah

3- Benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya dicampakkan ke dalam api neraka

(HR Syaikhani)


Tentang hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitab shahihnya di empat tempat, yaitu 1) di dalam Kitab al-Iman, bab halawatul Iman dan 2) bab man kariha an ya’uda fil-kufri kama yahrahu an ya’uda fin-nar minal-iman. 3) Di dalam kitab al-Adab, bab al-Hubbu fillah, 4) Kitab al-Ikrah, Bab man ikhtara adl-Dlarba wal-Qatla, wal-hawana ‘alal-kufri.

Imam muslim di dalam ash-Shahihnya menyebutkan dua hadis ini di dalam Kitab al-Iman, Bab bayan hishal man ittashafa bihinna wajada halawatal Iman

At-tirmidzi di dalam Jami’nya menyebutkan hadis ini di dalam Kitab al-Iman, bab hadis tsalatsun man kunna fihi wajada halawatal-Iman

An-Nasa’I, di dalam Sunannya, dengan teks yang berbeda menyebutkan pada Kitab al-Iman, Bab Tha’mul Iman, dan Bab halawatul Iman, bab halawatul-Islam

Pengantar
Manusia diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk mengabdi kepadaNya, sebagaimana firman Allah;

﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾ [الذاريات: 56].

“Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu

Para ulama’ mengartikan ibadah di dalam ayat di atas dengan mengesakan. Maka orang yang dalam hidupnya telah mengesakan Allah, dia akan mendapatkan derajat tinggi dan kelak layak masuk ke dalam sorga. Sebaliknya yang tidak mengesakan Allah, ia akn mendapatkan derajat rendah dan kelak dimasukkan ke dalam neraka.
Mengesakan Allah itu adalah salah satu unsur dari iman yang memiliki enam rukun. Adanya iman pada diri seseorang merupakan sebuah karunia besar, sebab dengan iman itu ia bisa berharap untuk diterima amalnya dan mendapatkan kemenangan di akhirat kelak.

Iman menurut keyakinan ahlus sunnah wal jamaah, bukan sekedar pengakuan lisan, bukan pula sekedar keyakinan di dlam hati. Iman dirumuskan sebagai; keyakinan di dalam hati, pernyataan secara lisan, dan pelaksanaan delam perbuatan. Karena amal merupakan bagian dari iman, maka semakin banyak amal akan kualitas imannya akan semakin meningkat. Sebaliknya, semakin sedikit amalnya menunjukkan kualitas iman semakin merosot.

Hadis yang kita kaji kali ini memberikan sebuah gambaran indah tentang Iman. Meskipun hadis ini terbiang ringkas, ia menunjukkan bahwa Iman akan memberikan pengaruh yang dahsyat di dalam jiwa seseorang. Iman bisa memberikan kenikmatan luar biasa, jika iman itu bisa mendorong seseorang untuk bersikap dan bertindak.

Pengkajian iman yang demikian menjadi penting bagi kita karena di tengah umat islam berkembang pemahaman yang keliru dalam memahami konsep iman. Dan banyak pula kekeliruan dalam mencari hakekat keimanan.

Manisnya Iman
Di dalam hadis ini Rasulullah meminjam istilah manis untuk menggambarkan indahnya iman. Kata manis ini untuk memberikan gambaran bagaimana seorang mukmin menyukai keimanan itu, sebagaimana seorang manusia menyukai barang yang rasanya manis.
Keimanan di dalam hati seseorang adalah sebuah anugerah terindah, yang telah diberikan oleh Allah. Tetapi kadang-kadang orang melihat anugerah itu sebagai sesuatu yang tak berharga. Justru sebaliknya banyak orang yang melihat dunia itu indah, sehingga lari dari keimanan menuju keindahan yang rendah, yakni dunia. Indikasi berpalingnya seseorang dari kenikmatan imani kepada kenikmatan duniawi adalah ketika ia diajak melaksanakan sebuah ketaatan kepada Allah, maka rasa bosa segera merayap dan meresap ke dalam hati. Sebaliknya ketika sibuk dengan urusan dunia, ibadah dan ketaatan dia lupakan.

Orang yang merasakan manisnya iman akan merasakan indahnya hidup di bawah ketaatan kepada Allah. Imam an-Nawawi menjelaskan arti manisnya iman, ”yaitu merasakan lezatnya ketaatan, dan rela menanggung derta demi mendapatkan keridloan Allah dan rasulNya. Dia mau mengutamakan ketaatan kepada Allah dan rasulNya daripada berbagai fasilitas kenikmatan dunia. Cintanya seorang hamba kepada Allah diwujudkan dalam bentuk kecintaan pada ketaatan kepadaNya, kemauan meninggalkan laranganNya”

Iman bagi kehidupan manusia sesungguhnya adalah kelezatan hakiki. Tetapi sesuatu yang lezat kadang-kadang dirasakan sakit oleh seseorang, karena orang yang merasakannya itu mengidap suatu penyakit. Madu yang manis, ketika diminum oleh orang yang sariawan bisa jadi terasa perih. Demikian pula keimanan ini kadang-kadang tidak bisa dirasakan manisnya oleh seseorang karena di dalam hati orang itu ada penyakit.

Cinta Allah
Cinta adalah lawan dari benci. Ibnu Abil-Izz mendefinisikan cinta dengan, “ketergantungan hati orang yang mencinta kepada yang dicintainya”

Cinta yang suci sesungguhnya adalah merupakan salah satu tujuan dari penciptaan manusia. Sebab cinta adalah salah satu sisi dari ibadah, sebagaimana dikaakan oleh Ibnu taymiyyah di dalam kitab al-Ubudiyyah

«العبادة المأمور بها تتضمن معنى الذل، ومعنى الحب، فهي تتضمن غاية الذل لله تعالى بغاية المحبة له»

Ibadah yang diperintahkan itu mengandung makna kehinaan dan makna cinta. Ibadah itu mengandung makna puncak penghinaan diri di hadapan Allah yang disertai puncak kecintaan kepadaNya.

Dengan definisi ibadah tersebut, kita mellihat pentingnya cinta kepada Allah. Bahwa kecintaan kepada Allah akan merealisasikan ibadah kita kepada Allah. Tanpa adanya cinta kepada Allah, maka ibadah kepada Allah akan hampa. Karena itulah Allah menyebutkan bahwa seorang mukmin itu sangat besar cintanya kepada Allah, firman Allah

﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ﴾ [البقرة: 165]

Ayat ini menunjukkan bahwa ada manusia yang musyrkik keran kurang mencintai Allah. Ibnu Taimiyah mengatakan, Orang yang mencintai makhluk seperti cintanya kepada Allah maka ia telah msuyrik. Karena itu seorang yang beraqidah tauhid harus sangat cinta kepada Allah swt.

Cinta seorang mukmin kepada Allah bukanlah cinta yang tak terbalas, bukan rindu yang terkatung-katung. Allah tidak akan menyia-nyiakan kecintaan dan kerinduang seseornag terhadapNya. Orang yang sangat besar ciantanya kepada Allah akan dicintai pula oleh Allah. Firman Allah;

﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ [آل عمران: 31].

Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah akan mencintai kalian.

Karena cinta itu pasti akan berbalas, maka layak kalau seorang mukmin selalu memohon datangnya cinta Allah, sebagaimana do’a yang dialunkan oleh Nabi Dawud as

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله «كَانَ مِنْ دُعَاءِ دَاوُدَ يَقُولُ: اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اللهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي، وَأَهْلِي، وَمِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ»

Dari Abu darda’, berkata, Rasulullah saw bersabda; Do’anya nabi dawud adalah, “Ya Allah, aku memohon cintamu, cinta orang yang mencintaiMu, dan mohon amal yang menhantarkanku kepada kecintaanMu. Ya Allah, jadikanlah cntaMu lebih aku cintai daripada diriku, daripada keluargaku, dan lebih aku ciintai daripada air yang dingin.

Do’a bagi seorang mukmin harus diikuti dengan usaha. Do’a untuk mendapatkan kecintaan Allah pun harus dikuti dengan usaha yang benar, sesuai dengan ketentuan syari’at. Adapun cara-cara yang bisa ditempuh untuk merealisaikan keinginan yang sudah disampaikan dengan do’a antara lain

1- Mentaati Rasulullah

﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾ [آل عمران: 31].

Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasul), niscaya Allah akan mencintai kalian.

2- Memperkokoh keimanan, sabda Nabi saw

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى الله مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ،

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. (Muttafaq ‘alaih)

3- Menunaikan kewajiban

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ».

Dan tidfaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari pada apa-apa yang telah aku wajibkan kepadanya (HR al-Bukhari)

4- Menunaikan ibadah sunnah

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،

Dan hambaKu terus mendekatkan diri kepadaKu dengan an-nawafil (amal sunnah0 sehingga Aku mencintainya (al-Bukhari)

5- Kontinue dalam ketaatan

وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى الله مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang kontinue meskipun sedikit (HR Muslim)

Dan masih banyak lagi amal-amal yang bis menghantarkan seseorang untuk meraih kecintan Allah

Cinta kepada Rasul
Disamping menyebutkan cinta kepada Allah, hadis ini pun mendorong kita agar mencintai Rasulullah saw diatas cinta kita kepada siapa pun juga, kecuali cinta kepada Allah.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ : «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ».

Dari Anas, berkata; Nabi sw bersabda; Tidak beriman seorang di antara kalian hingga menjadikan Ak lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan mansuaia pada umumnya (Muttafaq ’alaih)

Wujud kita mencintai Rasul adalah dengan mentaati apa saya yang beliau ajarkan, dan meneladani perilaku beliau dalam segala hal, sekuat tenaga kita

﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي ﴾ [آل عمران: 31].

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,

﴿ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ﴾ [سورة النساء: 59]

Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.

﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾ [الأحزاب:21].

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

﴿ فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [سورة النساء: 65]

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [سورة الأحزاب: 56].

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Cinta karena Allah
Cinta seorang mukmin kepada Allah adalah puncak segala cinta. Sehingga cinta kepada Allah adalah cinta lidzatihi maksudnya adalah cinta karena dzat Allah. Sedangkan cinta kepada selain Allah adalah cinta lighairihi, maksudnya adanya cinta yang merupakan realisasi dari cintanya kepada Allah. Maka jika ada suatu cinta yang tidak mencerminkan realisasi dari cintanya kepada Allah, cinta itu harus ditolak oleh seorang mukmin.

Demiianlah seorang mukmin membangun cinta di dalam dirinya. Semuanya berporos kepada cintanya kepada Allah. Dia mencintai seseorang pun manakala kecintaannya itu adalah manifestasi dari cinta kepada Allah, bukan karena nafsunya. Ia mencintai seseorang karena orang itu mencintai Allah, karena diperintahkan oleh Allah, dan karena dapat mendorongnya lebih mencintai Allah.

Kecintaan ini digambarkan oleh rasulullah saw

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله : «مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالسهر والحمى».

Dari Nu’man bin basyir berkata, rasulullah saw bersabda; perumpaman orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih, dan sayang mereka adalah seperti satu tubuh, apabila ada anggota yang mengeluh maka ia akan membawa seluruh tubuhnya merasa panas dan tidak bisa tidur (HR Muslim)

Kecintaan yang dibangun karena Allah inilah kecintaan yang akan meninggikan derjat manusia di dunia maupun di akhirat. Rasulullah menjelaskan keutamaan cinta kerana Allah;

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ـ رضي الله عنه ـ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله : «إِنَّ الْمُتَحَابِّينَ لَتُرَى غُرَفُهُمْ فِي الْجَنَّةِ كَالْكَوْكَبِ الطَّالِعِ الشَّرْقِيِّ أَوْ الْغَرْبِيِّ فَيُقَالُ مَنْ هَؤُلَاءِ فَيُقَالُ هَؤُلَاءِ الْمُتَحَابُّونَ فِي الله عَزَّ وَجَلَّ».

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra, berkata; Rasulullah saw berasbda; Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai akan terlihat kamar-kamar mereka di sorga seperti bintag-bintang yang terbit di arah timur atau barat, lalu ditanyakan siapakah mereka itu. Maka disebutkan, mereka itu adalah ornag-orang yang saling mencintai karena Allah (HR Ahmad)

Hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan cinta karena Allah sangat banyak, teratapi cukup disebutykan satu hadis di atas sebagai gambaran betapa indah cinta karena Allah, dan betapa besar penghargaan dari Allah kepada orang yang saling mencintai karena Allah swt.

Tetapi perlu diingat bahwa cinta adlah nurusan hati, sementara hati itu ada di tangan Allah. Sehingga manusia sesungguhnya tidak mampu mengendalikan hatinya sendiri. Banyak ayat dan hadis yang menunjukkan bahwa manusia tidak sanggup mengendalikan hatinya sendiri, di antaranya adalah

﴿ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴾ [الأنفال: 63].

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Meskipun urusan cinta ada di tangan Allah, namun manusia diberi kesempatan untuk berusaha mewujudkan adanya saling cinta itu dengan berbagai upaya, antara lain

a. saling mengucap salam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله : «لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؛ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ».

Dari Abu Hurairah ra, berkata; Rasulullah saw bersabda; Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga saling mencintai,, Maukah aku tunjukkan sesuatu kepada kalian, apabila kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian (HR Muslim)

b- saling meberi hadiah

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ عَبْدِالله الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله : «تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ، وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ».

Dari atha’ bin Abu Muslim, Abdullah al-Khurasani berkata; Rasulullah saw bersabda; Bersalamanlah kalian niscaya kedengkian akan hilang, dan saling memberi hadiah lah niscaya kalian akan saling mencintai dan … akan hilang (HR Malik)

Membenci kekufuran
Hal terakhir yang menjadi prasyarat agar seseorang bisa merasakan manisnya iman adalah ia membenci kekufuran. Mafhum mukhalafah dari kebencian kepada kekufuran ini adalah kecintaan kepada keimanan. Seorang akan bisa merasakan manisnya iman apabila ia lebih mencintai keimanan daripada kekufuran.

Gambaran konkrit lebih cinta keimanan daripada kekufuran adalah kerelaannya untuk mempertahankan iman dan menolak segala bentuk kekufuran, meskipun harus menghadapi kematian. As-Sindi, dalam menjleaskan hadis ini di dalam Syarah an-Nasa’i mengatakan, ”Andaikata telah dinyalakan api yang sangat besar, maka ia dimasukkan ke dalam api itu (untuk mempertahankan iman) lebih ia cintai daripada kembali melakukan kemusyrikan”.

Tampaknya gampang kata mempertahankan iman. Tetapi kalau kita melihat realitas saat ini, kita akan menyaksikan betapa sulitnya orang mempertahankan iman itu. Kita lihat ribuan orang datang ke rumah ponari, untuk mencari kesembuhan penyakitnya melalui batu yang dimilikinya. Ketika Ponari tidak bisa membuka praktik, air comberan pun diambil karena yakin akan bisa menyembuhkan penyakit. Fenomena ini merupakan tanda kecintaan pada kehidupan dunia, tanpa memperhatikan apakah melanggar garis-garis keimanan atau tidak. Sementara rasulullah saw telah bersabda

”Barangsiapa mendatangi dukun, …

Padahal kalau iman seseorang batal, ia akan mendapatkan kerugian di duni dan akhirt, sebagaiaman firman Allah

﴿ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴾ [البقرة :217].

Demikianlah rawannya keimanan seseorang di hadapan syirik, hingga istiqamah di dalam maslaah keimanan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi seorang mukmin, sebagaimana diwasiatkan oleh rasulullah saw;

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ الله الثَّقَفِيِّ، قَالَ: «قُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ»قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِالله فَاسْتَقِمْ» ( ).

Istiqamah adalah suatu keharusan bagi kita. Dan agar istiqamah itu bisa kita laksanakan, maka kita perlu memperhatikan petunjuk Allah dan Rasulnya agar tetap bisa mempertahankan iman dan Islam di dalam hati kita

1- Merasakan keagungan Allah dan berdzikir

﴿ فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ ﴾ [ سورة البقرة: 152].

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ : «يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً»( ).

2- Berdo’a memohon kemantapan iman

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ الله  يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: «نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الله يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ» قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ ( ).

3- Melaksanakan kewajiban dan amal sunnah dengan semangat, tidak malas

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله : «إِنَّ الله قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ؛ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ؛ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ»( ).

4- membaca al-Qur’an dengan memahami maknanya

﴿ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴾ [سورة النساء: 82 ].

5- membekali diri dengan ilmu

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله : «فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ»( ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: